People Person: Memanusiakan Manusia

Supportive People @ LIWAT

Jangan menjadi orang yang toxic

  1. Jadilah orang yang needful, bukan needy
    Orang yang needy adalah orang yang seperti tidak dapat berfungsi tanpa bantuan orang lain. Ia selalu meminta bantuan dan semua masalahnya harus diselesaikan oleh orang lain. Orang seperti ini merupakan high maintenance person yang bisa sangat emotionally draining bagi sekitarnya.
    Sebaliknya, orang yang needful adalah orang yang meminta bantuan hanya ketika perlu dan mengapresiasi bantuan yang diterima, tidak take things for granted. Ia juga bertanggung jawab terhadap urusannya sendiri.
  2. Jangan menjadi seorang taker
    Taker
    masih berhubungan dengan orang yang needy, tetapi needy lebih menekankan kepada orang yang tidak dapat berfungsi tanpa bantuan, sedangkan taker adalah orang yang suka menyuruh-nyuruh tetapi tidak mau balik membantu. Ingat bahwa “lebih berbahagia memberi dari pada menerima”, jadi kita harus periksa diri dan menghilangkan sifat taker.
  3. Jangan menjadi seorang narcissist
    Narcissist merupakan seorang yang selalu merasa dirinya paling penting. Seorang narcissist belum tentu memiliki hati yang jahat, namun tetap tidak nyaman untuk diajak bekerja sama. Sebagai contoh, ia tidak akan terlalu mendengarkan perkataan orang lain melainkan akan memotong dan mengabaikannya saja. Selanjutnya, ia malah akan membicarakan tentang dirinya sendiri karena segala hal tentangnya seolah lebih penting.

Komunikasi efektif

  1. Menyampaikan setiap informasi secara spesifik dan jelas
  2. Mengajukan pertanyaan yang relevan dengan topik yang dibahas
  3. Mengontrol emosi
  4. Saling memberikan umpan balik agar sama-sama semakin baik
  5. Active listening

Active listening

  1. Menunjukkan rasa hormat
    Kita dapat menunjukkan rasa hormat dengan tidak memotong ketika orang lain berbicara. Selain itu, kita mendengarkan lebih banyak daripada berbicara, yaitu dengan rasio sekitar 80/20. Pada pertemuan tatap muka, kita melakukan eye contact dan tidak mendengarkan sambil bermain HP.
  2. Merespon pembicaraan
    Kita dapat merespon pembicaraan dengan memberi pertanyaan sehingga menunjukkan bahwa kita sejauh ini mengerti dan tertarik dengan topiknya. Kita juga dapat mengkonfirmasi apa yang kita pahami dengan melakukan parafrase. Selain itu, kita dapat memberikan tanggapan lain.
  3. Tidak menunjukkan bahasa tubuh seperti bosan mendengarkan
    Bahasa tubuh yang melambangkan kebosanan antara lain seperti menggoyangkan kaki, membunyi-bunyikan pena, dan menunjukkan ekspresi tidak suka. Hal ini dapat membuat lawan bicara tidak nyaman.
  4. Memiliki pikiran yang terbuka
    Tidak men-judge setiap kalimat yang keluar dari lawan bicara ataupun menghakimi dalam diam. Gunakan empati dan pikiran yang terbuka untuk memahami bahwa setiap orang memiliki perspektif yang berbeda.

Mengucapkan maaf dan terima kasih

Maaf

  1. Remorse (penyesalan)
    Kita harus benar-benar menyesal karena kita memang melakukan kesalahan sehingga kita tidak boleh bersikap defensif dan membela diri.
  2. Restitution (pemulihan)
    Memperbaiki kesalahan yang dilakukan. Dalam konteks PPL, misalnya jika ada kode yang salah harus diusahakan untuk diperbaiki secepatnya.
  3. Rehabilitation
    Buktikan bahwa kita sudah belajar dari kesalahan yang pernah dilakukan, dengan cara tidak mengulangi kesalahan yang sama.
  4. Requesting forgiveness
    Terakhir, tentunya kita juga perlu meminta maaf. Namun ingat bahwa ucapan maaf tanpa komitmen untuk tidak mengulangi tidak ada gunanya. Permintaan maaf harus disertai tekad untuk tidak mengulangi kesalahan.

Terima kasih

Penutup

--

--

Computer Science Student at University of Indonesia

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Kezia Sulami

Kezia Sulami

Computer Science Student at University of Indonesia